Sabtu, 04 Oktober 2014

Senjata Makan Tuan, Ajaran Makan Guru

Senjata Makan Tuan, Ajaran Makan Guru

Di Sajastan, wilayah Asia tengah, antara Iran dan Afganistan, hidup seorang ulama ahli bahasa yang amat terkenal.
Suatu hari ia menasehati putranya: "Kalau kamu hendak membicarakan sesuatu, pakai dahulu otakmu. Pikirkan dengan matang; setelah itu, baru katakan dengan kalimat yang baik dan benar."

Pada suatu hari di musim hujan, keduanya sedang duduk-duduk santai di dekat api unggun di rumahnya. Tiba-tiba sepercik api mengenai jubah tenunan dari sutera yang dikenakan sang ayah. Peristiwa itu dilihat putranya, namun ia diam saja.

Setelah berpikir beberapa saat barulah ia membuka mulut, "Ayah, aku ingin mengatakan sesuatu, bolehkah?" tanyanya.
Kalau menyangkut kebenaran katakan saja," jawab sang ayah.
"Ini memang menyangkut kebenaran," jawabnya.
"Silakan," kata sang ayah.
Ia berkata, "Aku melihat benda panas berwarna merah."
"Benda apa itu?," tanya sang ayah.
"Sepercik api mengenai jubah ayah," jawabnya.

Seketika itu sang ayah melihat jubah yang sebagian sudah hangus terbakar.
"Kenapa tidak segera kamu beritahukan kepadaku?," kata sang ayah.
"Aku harus berikir dahulu sebelum mengatakannya, seperti apa yang anda nasihatkan kepadaku tempo hari," jawab putranya dengan lugu.

Sejak itu ia berjanji akan lebih berhati-hati dalam memberikan nasihat pada putranya. Ia tidak ingin peristiwa pahit seperti itu terulang lagi.

Anjing, Tongkat dan Sufi

ANJING, TONGKAT DAN SUFI

Pada suatu hari seorang yang berpakaian sebagai Sufi berjalan-jalan; ia melihat seekor anjing di jalan; ia pun memukulnya dengan tongkat.

Si Anjing, sambil melolong kesakitan, berlari menuju Abu Said, Sang Ulama.
Anjing itupun menjatuhkan dirinya dekat kaki Sang Ulama sambil memegang moncongnya yang terluka; ia mohon keadilan karena telah diperlakukan secara kejam oleh sufi itu.

Abu Said mempertemukan keduanya.
Kepada Sufi dikatakannya, “O Saudara yang seenaknya, kenapa kau perlakukan binatang dungu ini sekasar itu! Lihat akibat perbuatanmu!”
Sang Sufi menjawab,”itu sama sekali bukan salahku, tapi salahnya Saya tidak memukulnya tanpa alasan, saya memukulnya karena ia mengotori jubahku.”

Tetapi Si Anjing tetap menyampaikan keluhannya.
Kemudian Sang Bijaksana berbicara kepada Anjing, “Dari pada menunggu Ganti Rugi Akhirat, baiklah saya berikan ganti rugi bagi rasa sakitmu itu.”

Si Anjing berkata, “Sang Agung dan Bijaksana! Ketika saya melihat orang ini berpakaian sebagai Sufi, saya berfikir bahwa ia tak akan menyakiti saya. Seandainya saya melihat orang yang berpakaian biasa saja, tentunya akan saya berikan keleluasaan padanya untuk lewat. Kesalahan utama saya adalah menganggap bahwa pakaian orang suci itu menandakan keselamatan. Apabila Tuan ingin menghukumnya, rampaslah pakaian Sufinya itu. Campakkan dia dari pakaian Kaum Terpilih Pencari Kebenaran …” Anjing itu sendiri berada suatu Tahap dalam Jalan. Sangat keliru kalau kita beranggapan bahwa manusia harus lebih baik darinya.

Catatan “Penciptaan keadaan” yang disini ditampilkan oleh jubah Sufi sering disalahtafsirkan oleh kaum kebatinan dan keagamaan apa saja sebagai sesuatu yang berhubungan dengan pengalaman dari kegunaan nyata.

Kisah ini, dari buku Attar Ilahi-Nama, sering diulang-ulang oleh para Sufi “Jalan Salah,” dan dianggap ciptaan Hamdun Si Pemutih Kain, pada abad kesembilan.

Nabi Musa AS dan Penggembala

NABI MUSA DAN PENGGEMBALA

Nabi Musa a.s. adalah satu-satunya Nabi yang mendapat sebutan kalimullah.
Yakni yang diajak berbicara langsung oleh Allah SWT. Nabi Musa a.s. juga sering disebut-sebut sebagai nabi yang sangat cerdas dan kuat secara fisik.

Suatu hari Nabi Musa a.s. sedang berjalan menyusuri lembah di sebuah kaki bukit. Nabi Musa a.s. sedang melakukan perjalanan menuju kota. Tapi tiba-tiba beliau menghentikan langkahnya, karena mendengar seorang pengembala. Orang itu telihat sedang asyik becakap-cakap.

Nabi Musa a.s. heran karena orang itu bercakap-cakap sendiri. Tapi, yang membuat Nabi Musa a.s. lebih heran lagi, setelah beliau perhatikan si penggembala terlihat sedang asyik bercakap-cakap dengan seseorang.

Tapi siapa orang yang diajak bicara? “dimanakah Engkau, agar aku bisa menjahitkan pakaian-Mu. Aku dapat menambal kaos kaki-Mu. Aku bisa menyiapkan tempat tidur-Mu. Aku bisa menyemir sepatu-Mu. Dan agar bisa membuatkan susu hangat buat-Mu,” ujar si penggembala.

Nabi Musa a.s. kemudian mendekati orang itu dan bertanya kepadanya, “siapa yang sedang engkau ajak berbicara?”
“Tuhan yang menciptakan kita. Tuhan yang menciptakan bumi dan langit. Tuhan yang menciptakan siang dan malam,“ jawab orang itu.

Nabi Musa a.s. terperengah kaget. Beliau kontan berang. Lalu beliau serta-merta marah dan berkata dengan suara tinggi, “Berani-beraninya engkau berkata dengan Tuhan seperti itu! Engkau sungguh telah melecehkan Tuhan! Sumpal ucapanmu. Dan jangan sekali-kali engkau berkata seperti itu lagi nanti Tuhan mengutuk semua orang di muka bumi ini karena dosamu.” Demkian kata Nabi Musa a.s.

Mendengar ucapan Nabi Musa a.s. orang itu seperti tersambar geledek. Dia terguncang dan hampir-hampir saja ambruk. Dia benar-benar ketakutan. Dia tidak pernah berpikir kalau ucapan yang tulus dari bagian hatinya yang paling dalam itu adalah sebuah penghinaan.

“Apakah kamu pikir Tuhan itu manusia? Sehingga butuh sepatu, pakaian, dan minum susu serta yang lainnya?”
Laki-laki itu hanya bisa menyangga dirinya sendiri. Seluruh tubuhnya terasa lemas. Mulutnya tidak bisa mengatakan sepatah kata pun.
“Tidak! Tuhan itu Maha Sempurna. Dia tidak membutuhkan apa pun!” jelas Nabi Musa a.s.
Laki-laki itu hanya mematung.

Nabi Musa kemudian meneruskan perjalanannya ke kota. Hati Nabi Musa a.s. merasa telah berhasil meluruskan orang yang berbuat salah kepada Allah SWT.

Setelah ditinggal Nabi Musa a.s., laki-laki itu menangis dan memohon ampun kepada Allah SWT. Dia pergi ke sebuah tempat yang sunyi dan terpencil di kaki bukit. Dia menangis dan menangis. Dia begitu menyesali perbuatannya. Perbuatan yang menurutnya lancang.

Setelah beberapa hari melakukan perjalanan dan Nabi Musa a.s. belum tiba di kota, Allah SWT menegur beliau, “Apa yang membuatmu harus mengusik ketenangan-Ku? Engkau telah menyakiti orang yang mencintai dan setia dengan-Ku.” “Mengapa engkau pisahkan antara pecinta dan Yang Dicinta?”
“Apakah engkau lupa, kalau engkau diutus untuk menyatukan pencinta dan sang Kekasih? Bukan untuk menceraiberaikan!” “Ingatlah, sesungguhnya orang yang terikat sopan-santun itu sama sekali tidak sama dengan orang yang diikat oleh cinta. Orang yang mencinta tidak mengetahui agama kecuali sang Kekasih itu sendiri,” Allah SWT berpesan.

Nabi Musa a.s. mendengarkan setiap kalam Allah SWT yang bernada teguran itu dengan penuh takzim. Beliau barulah menyadari kesalahannya. Musa kemudian mencari orang yang ditemui di lembah.

Nabi Musa a.s. begitu ketakutan dengan apa yang menimpa orang itu. Nabi Musa a.s mencemaskan kalau-kalau di mati bunuh diri karena perasaan bersalahnya. Nabi Musa a.s. ingin meminta maaf atas kelancangan dirinya dan menyampaikan pesan dari Allah SWT.

Dan setelah pencarian yang lama, Nabi Musa a.s. berhasil menemukan orang itu. Ketika beliau mendekati orang itu, nabi Musa a.s. pun memohon maaf kepadanya.

Orang itu kemudian menegakkan kepalanya memandangi Nabi Musa a.s.
‘Aku punya pesan penting untuk engkau,” kata Nabi Musa a.s.
“Allah SWT telah berpesan kepadaku bahwa engkau bebas untuk berbicara apa saja dengan Tuhan-Mu. Tidak perlu lagi ada sopan santun. Engkau boleh berbicara apa saja dengan cara yang engkau sukai.”
Nabi Musa a.s. kemudian mengambil nafas. Laki-laki itu hanya terdiam. “Dan aku minta maaf karena kebodohanku.

Ternyata apa yang aku kira menghujat itu akidah dan cinta adalah yang dapat menyelamatkan dunia,” lanjut Nabi Musa a.s. Tapi, Nabi Musa a.s. dibuatnya kaget. Kenapa? Orang itu katanya sudah berjanji kepada dirinya tidak akan berkata-kata apa pun.
“Aku telah lampaui tahap kata-kata dan kalimat. Aku tidak ingin mengatakan apa pun. Hatiku ini sudah tercerahkan. Aku tidak bisa mengatakan apa pun tentang perasaan hatiku ini.”

Nabi Musa a.s. hanya bisa terdiam mendengarkan ucapan orang itu. Orang itu kemudian mengambil langkah dan meninggalkan Nabi Musa a.s. pandangan Nabi Musa a.s. terus mengiringi setiap langkahnya hingga sosok orang itu menghilang.

Penafsiran Cerita diatas saya kutip dari Buku Seri Teladan Humor Sufistik, Karya Tasirun Sulaiman, Penerbit Erlangga, 2005.

Yang menarik dari cerita diatas betapa seorang nabi seperti Musa yang senantiasa berdialog dengan Tuhan terkadang bisa keliru memahami Bahasa Hati seorang Pecinta Ilahi, bisa salah mengartikan keakraban seorang yang dimabuk rindu dengan Tuhan.

Kalau lah nabi Musa pernah keliru memaknai bahasa cinta para Pecinta Ilahi, bagaimana dengan orang-orang zaman sekarang yang merasa dirinya alim hanya dengan membaca, bukankah akan lebih sulit lagi memaknai bahasa Para Pecinta?

Bukankah lebih banyak lagi makian dan cacian yang terlontar dari mulut mereka kepada Para Pecinta? Bukankah akan lebih mudah lagi bagi mereka untuk menuduh Para Pecinta sebagai pembuatan bid’ah dan memberikan stempel “Aliran Sesat” kepada keyakinan mereka?

Terkadang sering kali kita merasa menjadi pembela agama, sehingga harus membentuk sebuah front untuk mengganyang orang-orang yang berseberangan dengan kita dengan dalih membela kebenaran, membela agama, padahal cuma membela kelompoknya, membela dirinya sendiri.

Terkadang juga banyak orang merasa menjadi pembela Tuhan, padahal ketika berniat membela Tuhan secara tidak langsung telah melenyapkan sifat Tuhan yang Maha Perkasa dan Maha Akbar dan mendudukkan Tuhan kepada posisi sebagai pesakitan dan tiada berdaya.

Alangkah damainya hidup ini kalau kita lebih banyak mengkoreksi diri sendiri dari pada sibuk mencari-cari kesalahan orang lain. Saya jadi teringat kata-kata bijak dari seorang penyair sufi Hamzah Fanshuri, “KEMBALI-LAH MENJADI DIRI, AGAR LEBIH BERARTI”.

Salam Damai Selalu

Sumber : sufimuda.net

Takut Miskin Di Akhirat

Takut Miskin di Akhirat

Mengingat harga-harga barang kebutuhan terus meningkat, seorang pemuda selalu mengeluh karena tak mampu memenuhi kebutuhan hidupnya. Setelah berdiskusi dengan seorang kiai makrifat, pemuda itu pun mengikuti anjurannya untuk menjalankan shalat Hajat serta tetap istiqomah melaksanakan shalat wajib lima waktu.

”Pak Kiai, tiga tahun sudah saya menjalankan ibadah sesuai anjuran Bapak. Setiap hari saya shalat Hajat semata-mata agar Allah SWT melimpahkan rezeki yang cukup. Namun, sampai saat ini saya masih saja miskin,” keluh si pemuda. “Teruskanlah dan jangan berhenti, Allah selalu mendengar doamu. Suatu saat nanti pasti Allah mengabulkannya. Bersabarlah!” Jawab sang kiai.

”Bagaimana saya bisa bersabar, kalau semua harga kebutuhan serba naik! Sementara saya masih juga belum mendapat rezeki yang memadai. Bagaimana saya bisa memenuhi kebutuhan hidup?” ”Ya tentu saja tetap dari Allah, pokoknya sabar, pasti ada jalan keluarnya. Teruslah beribadah.”

”Percuma saja Pak Kiai. Setiap hari shalat lima waktu, shalat Hajat, shalat Dhuha, tapi Allah belum juga mengabulkan permohonan saya. Lebih baik saya berhenti saja beribadah…” jawab pemuda itu dengan kesal.

”Kalau begitu, ya sudah. Pulang saja. Semoga Allah segera menjawab permintaanmu,” timpal kiai dengan ringan. Pemuda itu pun pulang. Rasa kesal masih menggelayuti hatinya hingga tiba di rumah. Ia menggerutu tak habis-habisnya hingga tertidur pulas di kursi serambi.

Dalam tidur itu, ia bermimpi masuk ke dalam istana yng sangat luas, berlantaikan emas murni, dihiasi dengan lampu-lampu terbuat dari intan permata. Bahkan beribu wanita cantik jelita menyambutnya. Seorang permaisuri yang sangat cantik dan bercahaya mendekati si pemuda. ”Anda siapa?” tanya pemuda. ”Akulah pendampingmu di hari akhirat nanti.” ”Ohh… lalu ini istana siapa?” ”Ini istanamu, dari Allah. Karena pekerjaan ibadahmu di dunia.” ”Ohh… dan taman-taman yang sangat indah ini juga punya saya?” ”Betul!” ”Lautan madu, lautan susu, dan lautan permata juga milik saya?” ”Betul sekali.” Sang pemuda begitu mengagumi keindahan suasana syurga yang sangat menawan dan tak tertandingi. Namun, tiba-tiba ia terbangun dan mimpi itu pun hilang.

Tak disangka, ia melihat tujuh mutiara sebesar telor bebek. Betapa senang hati pemuda itu dan ingin menjual mutiara-mutiara tersebut. Ia pun menemui sang kiai sebelum pergi ke tempat penjualan mutiara. “Pak Kiai, setelah bermimpi saya mendapati tujuh mutiara yang sangat indah ini. Akhirnya Allah menjawab doa saya,” kata pemuda penuh keriangan. ”Alhamdulillah.

Tapi perlu kamu ketahui bahwa tujuh mutiara itu adalah pahala-pahala ibadah yang kamu jalankan selama 3 tahun lalu.” ”Ini pahala-pahala saya? Lalu bagaimana dengan syurga saya Pak Kiai?” ”Tidak ada, karena Allah sudah membayar semua pekerjaan ibadahmu. Mudah-mudahan kamu bahagia di dunia ini. Dengan tujuh mutiara itu kamu bisa menjadi miliader.”

”Ya Allah, aku tidak mau mutiara-mutiara ini. Lebih baik aku miskin di dunia ini daripada miskin di akhirat nanti. Ya Allah kumpulkan kembali mutiara-mutiara ini dengan amalan ibadah lainnya sampai aku meninggal nanti,” ujar pemuda itu sadar diri.

Tujuh mutiara yang berada di depannya itu hilang seketika.

Ia berjanji tak akan mengeluh dan menjalani ibadah lebih baik lagi demi kekayaan akhirat kelak. [dari guyon orang-orang makrifat, wibi ar].

Di kutip dari koran republika

Kisah Nenek Pemungut Daun

Kisah Nenek Pemungut Daun

Kisah ini di kirim oleh Syrief Nur <syariefkuin@yahoo.co.id> ke milli : muhibbun_naqsybandi@yahoogroups.com, dia membacanya dari sebuah buku dan tidak dicantumkan nama bukunya. Saya tampilkan disini semoga bisa diambil hikmahnya:

Dahulu di sebuah kota di Madura, ada seorang nenek tua penjual bunga cempaka. Ia menjual bunganya di pasar, setelah berjalan kaki cukup jauh. Usai jualan, ia pergi ke masjid Agung di kota itu. Ia berwudhu, masuk masjid, dan melakukan salat Zhuhur. Setelah membaca wirid sekedarnya, ia keluar masjid dan membungkuk-bungkuk di halaman masjid. Ia mengumpulkan dedaunan yang berceceran di halaman masjid. Selembar demi selembar dikaisnya. Tidak satu lembar pun ia lewatkan. Tentu saja agak lama ia membersihkan halaman masjid dengan cara itu. Padahal matahari Madura di siang hari sungguh menyengat. Keringatnya membasahi seluruh tubuhnya.

Banyak pengunjung masjid jatuh iba kepadanya. Pada suatu hari Takmir masjid memutuskan untuk membersihkan dedaunan itu sebelum perempuan tua itu datang.

Pada hari itu, ia datang dan langsung masuk masjid. Usai salat, ketika ia ingin melakukan pekerjaan rutinnya, ia terkejut. Tidak ada satu pun daun terserak di situ. Ia kembali lagi ke masjid dan menangis dengan keras. Ia mempertanyakan mengapa daun-daun itu sudah disapu sebelum kedatangannya. Orang-orang menjelaskan bahwa mereka kasihan kepadanya. “Jika kalian kasihan kepadaku,” kata nenek itu, “Berikan kesempatan kepadaku untuk membersihkannya.” Singkat cerita, nenek itu dibiarkan mengumpulkan dedaunan itu seperti biasa. Seorang kiai terhormat diminta untuk menanyakan kepada perempuan itu mengapa ia begitu bersemangat membersihkan dedaunan itu. Perempuan tua itu mau menjelaskan sebabnya dengan dua syarat: pertama, hanya Kiai yang mendengarkan rahasianya; kedua, rahasia itu tidak boleh disebarkan ketika ia masih hidup. Sekarang ia sudah meniggal dunia, dan Anda dapat mendengarkan rahasia itu.

“Saya ini perempuan bodoh, pak Kiai,” tuturnya. “Saya tahu amal-amal saya yang kecil itu mungkin juga tidak benar saya jalankan. Saya tidak mungkin selamat pada hari akhirat tanpa syafaat Kanjeng Nabi Muhammad. Setiap kali saya mengambil selembar daun, saya ucapkan satu salawat kepada Rasulullah. Kelak jika saya mati, saya ingin Kanjeng Nabi menjemput saya. Biarlah semua daun itu bersaksi bahwa saya membacakan salawat kepadanya.“

Kisah ini saya dengar dari Kiai Madura yang bernama Zawawi Imran, membuat bulu kuduk saya merinding. Perempuan tua dari kampung itu bukan saja mengungkapkan cinta Rasul dalam bentuknya yang tulus. Ia juga menunjukkan kerendahan hati, kehinaan diri, dan keterbatasan amal dihadapan Allah swt. Lebih dari itu, ia juga memiliki kesadaran spiritual yang luhur: Ia tidak dapat mengandalkan amalnya. Ia sangat bergantung pada rahmat Allah. Dan siapa lagi yang menjadi rahmat semua alam selain Rasulullah SAW?

Waminallah taufik wal hidayyah
Sumber : sufimuda.net